Vinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo Slider

Berita Terbaru

Fakultas Teknik UMP : Langka M...

Fakultas Teknik UMP : Langka M...

Diawali dengan pembacaan ayat suci Al qur’an, acara Yudisium Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purwokerto 2013/2014 terselenggara dengan hikmat. Bertempat di Pringgading Resto (30/8) acara di...

Hits:81Read More

MASTA UMP 2014 Ajarkan Tradisi...

MASTA UMP 2014 Ajarkan Tradisi...

Masa Ta’aruf (Masta) adalah sebuah masa orientasi mahasiswa baru (Maba) untuk mengenal tentang organisasi kampus dan organisasi otonom Muhammadiyah yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Bertempat...

Hits:119Read More

FKIP UMP Yudisium 522 Calon W...

FKIP  UMP Yudisium 522 Calon W...

Sebelum melalui tahap wisuda pada Oktober mendatang, 522 calon wisudawan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP) Universitas Muhamadiyah Purwokerto (UMP) mengikuti Yudisium (30/8). Yudisium merupakan sebuah prosesi pernyataan tentang lulus...

Hits:109Read More

Sastra UMP Gelar Workshop Kuri...

Sastra UMP Gelar Workshop Kuri...

Workshop Kurikulum Fakultas Sastra UMP, Sabtu (30/8/2014). Menjelang dimulainya tahun akademik baru, Fakultas Sastra Universitas Muhammadiyah Purwokerto melakukan pembaharuan kurikulum dalam workshop yang mengangkat tema “Dengan...

Hits:37Read More

SMA Thailand Kunjungi UMP

SMA Thailand Kunjungi UMP

Bukan pertama kalinya Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dikunjungi oleh institusi pendidikan lain.  Kali ini, UMP menerima kunjungan studi banding dari Benjamarachalai-Benchamabophit School, Bangkok, Thailand. Ini...

Hits:138Read More

Alumni FAI Manusia Pembelajar

Alumni FAI Manusia Pembelajar

PURWOKERTO – Alumni Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto (FAI UMP) adalah manusia pembelajar. Maksudnya, alumni FAI UMP tetap terus belajar sepanjang hayat. Demikian disampaikan...

Hits:45Read More

Umm, Imaam dan Ummat

Seorang ibu bertanya kepada anaknya “Nak, cita-citamu kelak ingin jadi apa?”, jawab si anak “Aku ingin jadi seperti ibu saja”. Perbincangan seperti itu hampir terjadi pada sebagian besar keluarga, dan menggambarkan bahwa sebuah keluarga adalah tempat dibangun segala asa, harapan dan rencana demi cerahnya masa depan. Kadang ada pula anak yang menjawab “Aku ingin jadi seperti bapak saja”, yang jelas jawaban si anak kecil adalah jawaban sederhana yang disampaikan dengan jujur, tidak karena pamrih, tapi karena selama ini yang menjadi idolanya adalah bapak dan ibunya. Lantas muncul pertanyaan dibenak kita, sampai kapan kita akan menjadi orang yang diidolakan oleh mereka?

 

 

 

 

Dalam bahasa Arab kata “umm” (ibu) seakar dengan kata “imam” (pemimpin) dan seakar pula dengan kata “ummah” (umat), meskipun berbeda makna, namun mempunyai kaitan yang sangat erat, yakni terletak pada bahwa seorang ibu harus mendedikasikan hidupnya untuk ummat, ibu mempunyai posisi penting dalam mencetak para pemimpin dan peradaban umat, ibu harus berfungsi sebagai pendidik pertama para pemimpin ummat. Induk tempat berkumpulnya elemen-elemen (dan melahirkan anak-anaknya) sering disebut “umm”, sesuatu yang menjadi tempat merujuk sering disebut “imam”, perhimpunan yang mewadahi banyak orang sering disebut “ummat”. Maka tak salah seandainya sering kita jumpai kalimat “Ibu adalah tiang Negara, seandainya para wanitanya baik dan shalihah maka jayalah Negara dan ketika wanitanya jahat dan durhaka maka hancurlah Negara”.   





Ibnu Hazm pernah menyampaikan pendapatnya: “Baik dan terpuji seorang ibu selalu berada dalam rumahnya, membersihkan dan menata rumahnya, memasak dan menyediakan makanannya, namun semua itu bukanlah kewajibannya, tetapi pakaian yang sudah terjahit untuknya, makanan yang tersedia untuknya sebenarnya adalah kewajiban seorang bapak untuk memenuhinya”. Bagi aliran emansipasi wanita sekuler, hal ini merupakan senjata untuk menyerang kaum laki-laki bahwa perempuan setara dan sama dengan laki-laki, perempuan bukan ditempatkan untuk urusan domestik semata.

 

 

 

 

Padahal seandainya kita mencermati apa yang ingin disampaikan Ibnu Hazm, sebenarnya jauh dari hanya sekedar tuntutan penyetaraan tersebut, tetapi yang beliau maksudkan adalah bahwa ada kewajiban yang lebih penting bagi seorang ibu dari hanya sekedar memasak dan membersihkan rumah, yakni mendidik dan menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Hal ini tidak menuntut seorang ibu harus selalu berada di dalam rumahnya, tidak juga harus di luar rumah dalam posisi wanita karier yang cemerlang. Dalam posisi dan keadaan apapun, baik sebagai ibu rumah tangga maupun wanita karier, seorang ibu tetap bisa menjadi tauladan dan berkewajiban mendidik anak-anaknya. Dengan ketauladanan, komunikasi, menyelami dunianya, banyak sekali anak yang bisa menyadari dan mengagumi bahwa ibunya adalah sosok yang mulia, yang luar biasa. Bukankah hal itu lebih penting dibandingkan hanya sekedar tuntutan penyetaraan gender yang didengungkan aliran feminisme barat.

 

 

 

 

Seorang laki-laki (seorang bapak) bukanlah lawan, tapi mereka adalah kawan, untuk bersama-sama mendidik, menjadi tauladan, melayani dan memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya.    





Demikianlah sedikit makna akar kata antara umm (ibu) dengan ummah (umat), setidaknya seorang ibu adalah sosok yang berpengaruh penting dalam mencetak generasi, para pemimpin umat, yang akan menjadikan kesejahteraan umat   





Seorang anak yang shalih, sebagai timbalbalik tidak lain hendaknya bersikap sesuai QS Al Isra 24-25:    Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua (ibu dan bapak) dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat”.



Ida Nurlaeli, S. Ag., M. Ag

Dosen Fakultas Agama Islam UMP

Pengunjung

1317692
Your IP: 23.22.97.26
Server Time: 2014-09-02 13:55:46