Previous
Next

         

Berita Terbaru

Empat Pusat Unggulan Baru Segera Berdiri di UMP

26 Jul 2016
Empat Pusat Unggulan Baru Segera Berdiri di UMP

Tim Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristek Dikti RI) meninjau Laboratorium Terpadu Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Minggu...

Muskom Resmi Dibuka, IMM Psikologi UMP Pilih Pimpinan Baru

26 Jul 2016
Muskom Resmi Dibuka, IMM Psikologi UMP Pilih Pimpinan Baru

Musyawarah Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Muskom IMM) fakultas psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) resmi dibuka, akhir pekan lalu. Acara yang...

UMP Segera Miliki Penerjemah Tersertifikasi Nasional

26 Jul 2016
UMP Segera Miliki Penerjemah Tersertifikasi Nasional

Bertempat di Gedung  Laboratorium Terpadu UMP (23-24/6), Language Development Center (LDC) menyelenggarakan sebuah Lokakarya (Workshop) dua hari tentang Penerjemahan danInterpreting...

KBIH Muhammadiyah Banyumas Lepas 249 Calon Haji

26 Jul 2016
KBIH Muhammadiyah Banyumas Lepas 249 Calon Haji

Ibadah haji merupakan ibadah rukun islam yang kelima bagi umat Islam. Ibadah ini sangatlah dinanti-nanti oleh calon haji di seluruh...

Pengumuman

Hikmah

                                                                   

                                    

Error
  • JLIB_DATABASE_ERROR_FUNCTION_FAILED

Hikmah: “Shirat al Mustaqim” Untuk Kita

Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan (kedamaian) dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita menuju terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjukkan (mengantar) mereka ke jalan yang lurus” (QS Al-Maidah: 16)

 

 



Tak bisa dipungkiri lagi bahwa Allah senantiasa ingin menyelamatkan hamba-Nya, melalui petunjuk di dalam Al-Qur’an jalan yang luruspun sudah disediakan oleh Allah. Muslim yang taat meminta “tunjukanlah kami ke jalan yang lurus (ihdinashshiraatal mustaqim)” sehari minimal 17 kali melalui sholat wajib, tapi kadang seseorang sendiri tidak paham makna jalan yang lurus yang dimintanya, ciri-cirinya, bahkan tidak bisa memahami petunjuk yang diberikan Allah untuk menuju jalan yang lurus tersebut.

 





 

Al-Qur’an menyebut kata “shirat” berarti “jalan” diambil dari akar kata “menelan”, ibarat jalan tol maka karena luasnya jalan tersebut menelan kebebasan para pejalan kaki dan kendaraan roda dua untuk tidak berseliweran di jalan tersebut. Secara logika seseorang yang melewati jalan tersebut akan sampai ke tempat tujuan dengan cepat dan nyaman terhindar dari kemacetan.

 





 

Al-Qur’an juga menyebut istilah “sabil”, berbeda dengan shirat, Al Qur’an menggunakannya dengan mengaitkan terhadap sesuatu yang menunjuk pada Allah contohnya “sabilillaah” atau dikaitkan dengan menunjuk pada hamba Tuhan yang patuh dan taat contohnya “sabil al muttaqiin” atau menunjuk pada hamba Tuhan yang durhaka contohnya “sabil al mujrimiin”. Hal ini menunjukkan bahwa istilah “sabil” yang berarti “jalan” itu macamnya banyak, dan karena banyaknya jalan, seseorang harus bersikap hati-hati agar tidak terjerumus ke jalan yang sesat.

 





 

Melalui Al-Qur’an jalan yang lurus sudah ditunjukkan, yakni yang mempunyai ciri-ciri kedamaian, ketenangan dan ketentraman, maka segala tindakan yang dapat mendatangkan ketentraman, kedamaian dan ketenangan hati itulah tindakan yang dapat membawa pelakunya ke jalan yang lurus. Sebaliknya tindakan yang berdampak pada keresahan/kegelisahan, perselisihan dan permusuhan merupakan tindakan yang sedikit banyak telah menyimpang dari jalan yang lurus.

 





 

Jalan yang lurus bukan berarti jalan yang bebas tanpa aturan, seseorang kadang berpikir bahwa aturan-aturan dalam agama terlalu banyak, merepotkan dan untuk menuju jalan yang lurus terlalu banyak kewajiban yang mengikat dan harus dipatuhi. Pikiran seperti ini jelas keliru, karena aturan-aturan dalam agama yang berupa perintah dan larangan sebenarnya merupakan bukti kecintaan Allah kepada hamba-Nya.

 





 

Rambu-rambu lalu lintas dipasang guna menjaga keteraturan pengguna jalan raya. Seseorang yang di hatinya ada penyakit, berpikir bahwa ketika lampu merah menyala hanya memperlambat perjalanannya, sehingga ia tidak mau mematuhinya dan berpikir masih ada sedikit waktu untuk menerobos dengan kencang. Bayangkan beberapa orang yang dihatinya ada penyakit melakukan hal yang sama dari beberapa arah yang berlawanan. Kecelakaan akibat pelanggaran bukan hanya merugikan diri sendiri tapi juga pengguna jalan yang lain, perjalanan bukannya lebih cepat tapi sebaliknya, coba seandainya ia mau sedikit bersabar maka hal itu tidak akan terjadi.

 

 





Demikian juga terhadap aturan-aturan dalam agama. Seandainya orang yang beragama mau sedikit bersabar, dari godaan nafsu terhadap harta, serakah terhadap kedudukan, nafsu syahwat terhadap yang bukan haknya, maka bencana yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain tidak akan terjadi, keselamatan di dunia dan akhirat akan diraih. Itulah jalan yang lurus, setiap aturan yang dibuat Allah berdampak kebaikan untuk hamba-Nya yakni “shirat al mustaqim” menuju kebaikan di dunia dan akhirat. Hasbunallaah wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’mannashiir.    



 

Ida Nurlaeli, S. Ag., M. Ag.
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto (FAI UMP)

 

 

Pengunjung

0849467
Today
This Month
All days
36406
444600
849467

Kontak Kami

 

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202

 Purwokerto 53182

Kembaran Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 634424

Fax  : (0281) 637239