Previous
Next

         

Berita Terbaru

STKIP Muhammadiyah Sorong Kunjungi UMP

11 Feb 2016
STKIP Muhammadiyah Sorong Kunjungi UMP

Rabu (10/2), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (FKIP UMP) semakin menunjukkan eksistensinya. Kali ini kunjungan datang dari...

LPPI UMP Kaji Integrasi Keislaman dan IPTEK

11 Feb 2016
LPPI UMP Kaji Integrasi Keislaman dan IPTEK

Kaji perkembangan integrasi ke-Islaman di Indonesia, Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto (LPPI UMP) adakan kuliah integrasi keislaman...

UMP Makin Mengudara Bersama RRI

11 Feb 2016
UMP Makin Mengudara Bersama RRI

Mantapkan aktifitas promosi, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) tekankan pentingnya hubungan baik dengan media massa. Ketua Pusat Promosi UMP, Elly Hasan...

UMP Gelar Pelatihan Kepanduan Hizbul Wathan

10 Feb 2016
UMP Gelar Pelatihan Kepanduan Hizbul Wathan

Tingkatkan potensi sumber daya manusia di amal usaha Muhammadiyah, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (GKHW) Qabilah Ali Bin Abi Thalib Universitas...

Pengumuman

Hikmah

                                               

                                    

Hikmah: “Shirat al Mustaqim” Untuk Kita

Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan (kedamaian) dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita menuju terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjukkan (mengantar) mereka ke jalan yang lurus” (QS Al-Maidah: 16)

 

 



Tak bisa dipungkiri lagi bahwa Allah senantiasa ingin menyelamatkan hamba-Nya, melalui petunjuk di dalam Al-Qur’an jalan yang luruspun sudah disediakan oleh Allah. Muslim yang taat meminta “tunjukanlah kami ke jalan yang lurus (ihdinashshiraatal mustaqim)” sehari minimal 17 kali melalui sholat wajib, tapi kadang seseorang sendiri tidak paham makna jalan yang lurus yang dimintanya, ciri-cirinya, bahkan tidak bisa memahami petunjuk yang diberikan Allah untuk menuju jalan yang lurus tersebut.

 





 

Al-Qur’an menyebut kata “shirat” berarti “jalan” diambil dari akar kata “menelan”, ibarat jalan tol maka karena luasnya jalan tersebut menelan kebebasan para pejalan kaki dan kendaraan roda dua untuk tidak berseliweran di jalan tersebut. Secara logika seseorang yang melewati jalan tersebut akan sampai ke tempat tujuan dengan cepat dan nyaman terhindar dari kemacetan.

 





 

Al-Qur’an juga menyebut istilah “sabil”, berbeda dengan shirat, Al Qur’an menggunakannya dengan mengaitkan terhadap sesuatu yang menunjuk pada Allah contohnya “sabilillaah” atau dikaitkan dengan menunjuk pada hamba Tuhan yang patuh dan taat contohnya “sabil al muttaqiin” atau menunjuk pada hamba Tuhan yang durhaka contohnya “sabil al mujrimiin”. Hal ini menunjukkan bahwa istilah “sabil” yang berarti “jalan” itu macamnya banyak, dan karena banyaknya jalan, seseorang harus bersikap hati-hati agar tidak terjerumus ke jalan yang sesat.

 





 

Melalui Al-Qur’an jalan yang lurus sudah ditunjukkan, yakni yang mempunyai ciri-ciri kedamaian, ketenangan dan ketentraman, maka segala tindakan yang dapat mendatangkan ketentraman, kedamaian dan ketenangan hati itulah tindakan yang dapat membawa pelakunya ke jalan yang lurus. Sebaliknya tindakan yang berdampak pada keresahan/kegelisahan, perselisihan dan permusuhan merupakan tindakan yang sedikit banyak telah menyimpang dari jalan yang lurus.

 





 

Jalan yang lurus bukan berarti jalan yang bebas tanpa aturan, seseorang kadang berpikir bahwa aturan-aturan dalam agama terlalu banyak, merepotkan dan untuk menuju jalan yang lurus terlalu banyak kewajiban yang mengikat dan harus dipatuhi. Pikiran seperti ini jelas keliru, karena aturan-aturan dalam agama yang berupa perintah dan larangan sebenarnya merupakan bukti kecintaan Allah kepada hamba-Nya.

 





 

Rambu-rambu lalu lintas dipasang guna menjaga keteraturan pengguna jalan raya. Seseorang yang di hatinya ada penyakit, berpikir bahwa ketika lampu merah menyala hanya memperlambat perjalanannya, sehingga ia tidak mau mematuhinya dan berpikir masih ada sedikit waktu untuk menerobos dengan kencang. Bayangkan beberapa orang yang dihatinya ada penyakit melakukan hal yang sama dari beberapa arah yang berlawanan. Kecelakaan akibat pelanggaran bukan hanya merugikan diri sendiri tapi juga pengguna jalan yang lain, perjalanan bukannya lebih cepat tapi sebaliknya, coba seandainya ia mau sedikit bersabar maka hal itu tidak akan terjadi.

 

 





Demikian juga terhadap aturan-aturan dalam agama. Seandainya orang yang beragama mau sedikit bersabar, dari godaan nafsu terhadap harta, serakah terhadap kedudukan, nafsu syahwat terhadap yang bukan haknya, maka bencana yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain tidak akan terjadi, keselamatan di dunia dan akhirat akan diraih. Itulah jalan yang lurus, setiap aturan yang dibuat Allah berdampak kebaikan untuk hamba-Nya yakni “shirat al mustaqim” menuju kebaikan di dunia dan akhirat. Hasbunallaah wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’mannashiir.    



 

Ida Nurlaeli, S. Ag., M. Ag.
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto (FAI UMP)

 

 

Pengunjung

0010399
Today
This Month
All days
334
10168
10399

Kontak Kami

 

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202

 Purwokerto 53182

Kembaran Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 634424

Fax  : (0281) 637239